Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Kota Surabaya menggelar Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah (Pagimu) di Masjid Spemma Surabaya, Ahad, 18 Oktober 2026.

Kajian kali ini mengangkat tema “Mengadaptasi Akhlak Rasulullah di Kancah Gen Z” dengan menghadirkan penceramah KH Drs Muhammad Dawam Sholeh, pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah Paciran Lamongan. Beliau merupakan lulusan filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan gelar Drs dan BA.

Dalam tausiyahnya, Kiai Dawam menceritakan perjalanan awal merintis pondok. Pada tahun 1983, ia pulang ke Desa Sendangagung Paciran dengan tekad ingin membuat pondok yang persis seperti Gontor, dengan kurikulum yang beda dengan sekolah negeri.

Ia kemudian memaparkan kunci keberhasilan Gontor yang menjadi inspirasinya, yakni asrama yang disiplin, keseimbangan antara ilmu agama dan umum, aktif berbahasa Arab dan Inggris, disiplin di segala bidang, aktif dalam ekstrakurikuler dan organisasi, serta adanya uswah hasanah atau teladan baik dari pimpinan pondok.

Berkat konsistensi tersebut, jumlah murid yang awalnya hanya 10 orang kini berkembang menjadi 2.000 santri. Menurutnya, ketika kualitas dijaga, maka kuantitas akan mengikutinya.

Kepada jamaah, khususnya generasi muda, ia berpesan, “Wahai anakku, cintai ilmu, cintai kerja bermutu yang halal, cintailah ibadah, maka dunia akan datang kepadamu.”

Ia menegaskan, jika yang dikejar adalah dunia maka akan mendatangkan kesalahan, namun jika akhirat yang dikejar maka dunia akan mengikutinya.

Kiai Dawam juga menjelaskan jati diri Muhammadiyah yang bersih dan maju. Bersih dari TBC, yakni tahayul yang mengada-ada dan tidak masuk akal, bidah yaitu sesuatu ibadah yang tidak dilakukan Rasulullah namun baru dilakukan kita, serta churafat. Menurutnya, dari pusat hingga daerah, pimpinan Muhammadiyah bersih dari korupsi karena mereka berjuang untuk umat.

Pada inti tausiyah, ia mengajak jamaah untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, yakni siddiq yang berarti tidak berbohong karena sumber segala dosa adalah kebohongan, amanah yang berarti mampu diberi tugas dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, tabligh yang berarti mampu menyampaikan ajaran dengan cara yang baik, dan fathonah yang berarti cerdas dan jangan sampai bodoh.

“Orang Muhammadiyah itu cerdas dan maju, mikir kemajuan,” pungkasnya. (Mul)

Shares:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *