NGAGELMU.ID – “Bulan suci Ramadan adalah bulan mulia yang penuh berkah. Bulan Ramadan adalah bulan yang lebih baik daripada 1000 bulan.”
Demikian dismapaikan Tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. H. Zainuddin Maliki, M.Si. dalam Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah (Pagimu) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngagel Surabaya, Ahad, (16/02/25). Pengajian bertema “Ramadhan Bulan Tarbiyah Keluarga” diikuti warga Muhammadiyah Ngagel Surabaya.
pada kesempatan itu Prof Zainuddin membahas tema Ramadan sebagai bulan tarbiyah keluarga. Dia mengawali penjelasannya bahwa kita semua, sebagai manusia mempunyai iradat kehendak, kemauan. Sering terjadi, kita menuruti keinginan atau kemauan daripada kebutuhan. Maka di bulan Ramadan ini kita bisa mengontrol kehendak kemauan kita. “Cukup nggak kita, satu bulan itu saja kita bisa mengatur kehendak kita?” tanyanya ke audience retoris. Dijawab sendiri, tak cukup. Makanya Puasa salah satunya berfungsi sebagai tarbiyah iradat (mendidik keinginan/kemauan).

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menjelaskan dalam pendidikan ada dua teori. Yaitu konstruktivistik dan behaviouristik. dia menjelaskan maksud keduanya.
Kontruktivistik dijelaskan sebagai konsep pendidikan di mana orang membangun kepribadiaannya/bertindak berangkat dari keinginan dirinya. Semua perilaku dan tindakannya berangkat dari diri sendiri tanpa dipengaruhi orang lain (kesadaran diri).
“Kita berpuasa ditengah tengah orang yang tidak puasa kita tetap berpuasa tdk berpengaruh. Maka didalam kelurga kita mendidik anak dengan konsep konstruktivistik. Anak shalat di suruh shalat itu disuruh orang tua begitu juga belajar,” jelasnya.
Yang kedua adalah teori pendidikan behavioristik yaitu kepribadian tindakan dan yang dilakukan karena pengaruh dari orang lain. Ketika anak-anak kita disiplin karena kita awasi atau atas kemauan sendiri. Di sekolah juga begitu siswa-siswi yang saat ujian tidak mencontek karena diawasi guru atas kemauan sendiri? Jika guru tidak mengawasi apa kah siswa tidak mencontek? itulah beahavioristik,” contohnya.
Lebih lanjut dikatakan, sama halnya ketika kita di malam hari nyetir di jalan raya kemudian lampu merah dan tidak ada polisi, apakah berhenti atau lanjut? Jika tidak berhenti berarti perilaku kita terbentuk secara teori behaviouristik.
“Puasa itu menjadikan kita membentuk pribadi konstruktivistik. Puasa membuat kita menjadi lebih baik karena kemauan diri sendiri. Karena kebanyakan dari kita terbentuk dari lingkungan maka di bulan ramadan ini merupakan lingkungan yang mendukung kita menjadi lebih baik,” katanya.

Selain itu Anggota DPR RI tahun 2019 – 2024 ini juga menjelaskan salah satu teori derivasi yaitu sebuah teori peran dengan kondisi kesenjangan antara kemampuan dan kemauan. Dan hal ini sangat berbahaya sekali. Nah jangan sampai dalam berbuat baik kita tidak sesuai dengan kemampuan.
“Saat ini ketika kita hidup di sebuah lingkungan yang didominasi dengan teknologi digital, seperti internet yang menganggap persepsi lebih penting dari fakta.Dengan kata lain yaitu pencitraan karena gambar yang dimunculkan berwarna lebih baik. Dan hal inilah yang saat ini dianggap sebagai fakta,” pungkasnya. (Tanti)
